Conventio dignissim genitus lenis qui rusticus. Adipiscing causa...

Ibidem importunus sagaciter suscipere vulputate. Incassum iustum...

Eum magna odio. Commodo eligo jugis. Appellatio comis jumentum...

SALAH KAPRAH SARJANA ARSITEKUR

Salah kaprah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kesalahan yg umum sekali sehingga orang tidak merasakannya sebagai kesalahan.  Suatu kesalahan menjadi salah kaprah  karena telah dilakukan secara umum dan luas.  Penggunaan istilah mushola, musola, atau musolah misalnya adalah salah kaprah.  Yang benar adalah musala.  Perilaku menyalip di jalan tol dari bahu jalan, yang akhir-akhir ini sering dilakukan pengguna jalan, bisa saja menjadi salah kaprah karena saking seringnya terjadi.

Seperti slogan salah satu produk minuman ringan, salah kaprah bisa terjadi dimana saja, pada siapa saja, dan kapan saja.  Dalam dunia pendidikan misalnya pangkat guru besar atau profesor sering disalah artikan orang awam sebagai jenjang pendidikan setelah S3 atau doktoral.  Demikian juga istilah asisten ahli, lektor, atau lektor kepala masih sering dicampuradukkan dengan gelar sarjana, magister, atau pun doktor.  Contoh salah kaprah lain bisa kita jumpai pada fenomena sertifikasi guru.  Sertifikasi yang tujuan awalnya adalah untuk menjamin mutu dan kompetensi guru, pada akhirnya dipahami hanya sebagai media untuk menambah penghasilan guru semata.

Suatu diskusi beberapa waktu yang lalu diselenggarakan oleh IAI tentang hubungan antara dunia pendidikan arsitektur dan dunia kerja.  Seorang peserta mengajukan keluhan tentang mutu lulusan sarjana S1 arsitektur.  Peserta ini adalah alumni arsitektur ITS angkatan tahun 70an yang juga pemilik perusahaan jasa konsultan yang cukup dikenal.  Menurutnya saat ini sulit mencari sarjana S1 atau tenaga ahli lulusan arsitektur yang benar-benar memahami permasalahan teknis di lapangan.  Baginya sarjana yang baru lulus atau freshgraduate seharusnya sudah siap kerja dan harus paham permasalahan teknis di lapangan. 

Keluhan si pemilik perusahaan tersebut bisa jadi banyak dialami rekan-rekannya di dunia usaha jasa konstruksi.  Namun apakah lembaga pendidikan arsitektur yang menelorkan para sarjana ini bisa serta merta disalahkan?  Tentu saja tidak.  Bisa jadi ini terjadi karena adanya salah kaprah dalam memandang dunia pendidikan dan sarjana yang dihasilkannya.

 

Jalur, Jenjang, dan Jenis Pendidikan

Sistem pendidikan kita diatur dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (Sisdiknas).   Disitu diatur tentang jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.  Jalur pendidikan terdiri dari jalur pendidikan formal, non-formal, dan informal.  Jalur pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang.  Jenjangnya adalah mulai dari pendidikan anak usia dini (TK/RA), hingga pendidikan tinggi (universitas, institut, akademi, dll.). 

Satuan atau lembaga pendidikan selain jalur formal yang dapat diselenggarakan secara terstruktur dan berjenjang dikategorikan dalam jalur pendidikan non-formal.  Misalnya kursus bahasa, lembaga bimbingan belajar,  lembaga pelatihan, sanggar belajar, dan lain-lain yang sejenis.  Sementara  pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.  Berbentuk kegiatan belajar secara mandiri dan spontan.  Kompetensi yang dicapai dalam pendidikan informal lebih banyak pada aspek sikap, kepribadian, dan moral. 

 

JALUR
PENDIDIKAN

JENJANG
PENDIDIKAN

JENIS PENDIDIKAN

PENDIDIKAN
FORMAL
PENDIDIKAN
TINGGI

UMUM
KEJURUAN
AKADEMIK
PROFESI
VOKASI
KEAGAMAAN
KHUSUS

PENDIDIKAN
NONFORMAL
PENDIDIKAN
MENENGAH
PENDIDIKAN
INFORMAL
PENDIDIKAN
DASAR

Jalur, jenjang, dan jenis pendidikan menurut UU Sisdiknas

 

Selanjutnya selain jalur pendidikan, pengertian jenis pendidikan juga perlu kita pahami agar dapat mencegah terjadinya salah kaprah.  Jika kita melihat ketentuan dalam UU Sisdiknas, terdapat banyak jenis pendidikan.  Mencakup pendidikan  umum, kejuruan,  akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan pendidikan khusus.  Pengelompokan tersebut didasarkan pada kekhususan dari tujuan pendidikan.

 

Pada jenjang pendidikan tinggi terdapat jenis pendidikan akademik, vokasi, dan profesi.  Pendidikan akademik berupa pendidikan sarjana (strata-1/S1)  dan pasca sarjana  (S2 dan S3) yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.  Sementara pendidikan vokasi adalah program diploma D1 hingga D4 yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki keahlian terapan tertentu.   Adapun program profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki dunia profesi atau menjadi seorang profesional. 

Gelar untuk lulusan pendidikan akademik jenjang S1 adalah sarjana, misalnya Sarjana Teknik (S.T.), Sarjana Hukum (S.H.), Sarjana Ekonomi (S.E.), dan sebagainya.  Untuk jenjang S2 gelarnya magister, misal Magister Agama (M.Ag.), Magister Pendidikan (M.Pd.), dan lain-lain.  Sementara untuk lulusan S3  karena ilmu yang ditekuninya sudah sangat mendalam dan spesifik, hanya bergelar Doktor (Dr.) tanpa embel-embel setelahnya.

Tidak kalah pentingnya adalah gelar untuk lulusan pendidikan vokasi.  Lulusan pendidikan vokasi program diploma D1 bergelar Ahli Pratama (A.P.), untuk D2 bergelar Ahli Muda (A.Ma.), dan untuk D3 bergelar Ahli Madya (A.Md.).  Semua penamaan gelar tersebut telah diatur dalam Permendiknas nomor 178 tahun 2001.  Lalu bagaimana dengan lulusan program D4?  Gelar untuk lulusan program ini diatur dalam surat edaran Dirjen Dikti nomor 888/E.E3/MI/2014 tanggal 17 Oktober 2014.  Gelarnya adalah Sarjana Sains Terapan.

 

Sarjana Sains Terapan Arsitektur?

Pendidikan arsitektur di Indonesia sebagian besar berada di jenjang pendidikan tinggi.  Kebanyakan berupa program sarjana S1.  Selain dari itu hanya ada beberapa perguruan tinggi di Indonesia yang menyelenggarakan program diploma arsitektur.  Jadi bisa dimengerti jika  di masyarakat terbentuk anggapan jurusan arsitektur (baca : program S1 arsitektur) adalah penghasil tenaga arsitek.  Terlebih lagi sebagian besar arsitek yang berpraktek di Indonesia mulai dari jaman tahun 70an hingga sekarang adalah lulusan sarjana S1 jurusan arsitektur.

 Padahal jika kita melihat uraian tentang jenis-jenis pendidikan di atas, jurusan arsitektur adalah pendidikan akademik, bukan pendidikan vokasi.  Tidak salah kalau lulusannya lebih diarahkan pada penguasaan ilmu arsitektur, bukan pada penerapan ketrampilan atau pengetahuan arsitektur di kehidupan nyata.  Jadi lulusannya memang belum siap bekerja sebagai arsitek profesional.  Ia harus menempuh pendidikan profesi atau magang selama beberapa waktu untuk siap berpraktek sebagai arsitek. 

Dari sudut pandang ini tentu kita tidak bisa menuntut lulusan freshgraduate sarjana S1 arsitektur untuk siap pakai.  Yang lebih tepat mungkin adalah lulusan S1 arsitektur siap bekerja magang atau melanjutkan ke pendidikan profesi, atau bisa juga ke pendidikan strata-2.  Hal ini diamini oleh Cipto (bukan nama sebenarnya), lulusan Arsitektur ITS tujuh tahun yang lalu.  Sejauh yang dialaminya, dan juga kebanyakan rekan-rekannya, status atau pekerjaan yang mapan baru bisa diperoleh setelah  bekerja magang (jawa : ngenger) selama 3-5 tahun.  Saat ini ia bekerja secara mandiri sebagai arsitek sekaligus pelaksana bangunan yang dirancangnya. 

Pendapat yang  menarik dikemukakan seorang dosen arsitektur sebuah perguruan tinggi swasta di kawasan Surabaya Timur.  Menurutnya wajar saja masyarakat menuntut lulusan jurusan arsitektur untuk siap pakai.  Mengapa demikian?  Karena faktanya, walaupun secara formal berwujud pendidikan akademik, secara de facto sebagian besar jurusan arsitektur adalah pendidikan vokasi. 

Lihat saja persyaratan kelulusan mahasiswa S1 yang umumnya berwujud skripsi hasil penelitian, tapi  di jurusan arsitektur wujudnya berupa karya tugas akhir/proyek akhir.  Belum lagi jika kita lihat sebagian besar perkuliahan di jurusan arsitektur diselenggarakan di studio.  Disini mahasiswa mendapat kesempatan membuat berbagai karya rancangan.  Baik yang hanya sekedar rancangan komposisi estetis dua dan tiga dimensi, ` sistem-sistem pendukung bangunan, hingga rancangan bangunan secara keseluruhan.  Dalam studio sejatinya mereka tengah dilatih untuk berkarya alias bekerja.  Bukankah ini adalah ciri-ciri pendidikan vokasi yang lebih menekankan pada penerapan pengetahuan dan ketrampilan?

Jika begitu, agar tidak terjadi salah paham di masyarakat, mungkin wujud dari jurusan arsitektur  yang memang menginginkan lulusannya siap pakai adalah program diploma empat tahun / D4 arsitektur.  Lulusannya bergelar Sarjana Sains Terapan Arsitektur.  Gelar ini setara dengan lulusan program sarjana strata-1 arsitektur bergelar Sarjana Teknik atau Sarjana Arsitektur.  Apakah seperti itu ? Silakan direnungkan.

Sponsors

Get in touch with us

Fakultas Teknik.

Fakultas yang unggul dan menjadi rujukan dalam pengembangan pendidikan teknologi kejuruan dan keteknikan.

Contact us

Kampus Terpadu

Jl.Sutorejo No.59,
Surabaya 60113.

Tel: 031 - 3811966:138

Education - This is a contributing Drupal Theme
Design by WeebPal.